Rieja Notes
A FEW RIEJA NOTES
Sabtu, 24 Agustus 2013
Ketika Dokter Bukanlah Dewa Penyelamat
Hari ini sang dokter tidak menjelma menjadi dewa penyelamat karena orang sakit yang berobat padanya tidak dapat diselamatkan nyawa. Pasien itu adalah seorang bayi laki-laki berusia 4 bulan. Bayi yang malang tersebut menderita infeksi saluran pernafasan atau dalam istilah medisnya Bronkopneumonia. Penyakit ini bukanlah penyakit yang mengancam nyawa bila diberikan terapi yang sesuai sejak awal terjadinya infeksi. Namun bayi tersebut telah menderita infeksi yang berat saat masuk ke Rumah Sakit. Bayi tersebut menderita sesak nafas dan perut yang kembung sehingga sulit untuk bernafas. Kemudian dari Instalasi Gawat Darurat bayi tersebut dikonsulkan ke Dokter Spesialis Anak untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut.
Bayi itu pun dirawat di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit), yaitu bagian dari rumah sakit untuk merawat bayi yang butuh perhatian khusus. Bayi tersebut telah mendapatkan terapi yang sesuai untuk penyakitnya dan telah menggunakan antibiotik golongan tinggi untuk infeksi yang berat. Tapi sayangnya ruang PICU yang seharusnya mempunyai monitor dan alat-alat lainnya yang biasanya tersedia untuk perawatan intensif tidak tersedia pada ruangan tempat bayi ini dirawat. Bayi ini pun dirawat dengan alat seadanya yang tampaknya sama saja dengan ruangan rawat lainnya. Bayi tersebut saat masuk ke rumah sakit pada siang hari melalui Instalasi Gawat Darurat mengeluhkan demam dan batuk yang tak kunjung sembuh serta perut kembung. Kemudian pada malam harinya pada saat di PICU bayi tersebut mulai sesak nafas dan perut kembung bertambah berat. Menurut keterangan keluarganya, perawat yang bertugas jaga tidak memperdulikan kondisi pasien yang sesak tersebut. Hingga pada siang hari keesokan harinya bayi tersebut masih sesak berat. Kemudian perawat yang bertugas jaga pada siang tersebut memanggil dokter jaga IGD untuk melihat kondisi bayi tersebut. Dokter IGD itu pun datang untuk melihat kondisi bayi tersebut. Dokter itu pun melakukan dekompresi pada perutnya yang kembung dengan mengeluarkan cairan lambungnya melalui selang lambung (NGT). Akan tetapi sesak pada bayi tersebut belum juga berkurang sehingga perawat menghubungi dokter spesialis anak yang merawat bayi tersebut. Dokter spesialis anak itu pun memerintahkan untuk melakukan nebul untuk mengurangi sesak. Akan tetapi setelah dinebul, sesak pada bayi tersebut tidak juga berkurang. Kemudian setelah dihubungi lagi, Dokter spesialis anak tersebut mengatakan akan datang untuk melihat keadaan bayi tersebut.
Setelah dua jam menunggu dokter anak yang dinanti tidak juga tiba, dan bayi malang tersebut telah menghembuskan nafas terakhirnya sebelum dilihat oleh sang dokter anak. Perawat jaga telah mencoba memberikan bantuan pernafasan dengan menggunakan ambu, akan tetapi tetap tidak dapat mengembalikan nafas bayi tersebut. Perawat itu kemudian memanggil dokter IGD yang kebetulan sedang menangani pasien lain untuk memastikan kematian bayi tersebut. Dokter itu melihat bayi tersebut telah berhenti bernafas dan tidak bergerak lagi. Sang dokter mengambil stetoskop yang ada di saku jas putihnya dan menempelkan ujung stetoskop itu pada dada bayi tersebut, akan tetapi tidak ada lagi bunyi detak jantung yang sebelumnya terdengar dengan keras. Mata bayi tersebut juga sudah tidak merespon rangsangan cahaya lagi. Sang dokter menghentikan pemeriksaannya dan mengatakan “Udah gak da lagi buk ya” pada ibu bayi tersebut. Sontak si ibu dan seorang wanita yang kerabat dekat ibu bayi tersebut langsung menangis.
Entah apa yang ada yang dibenak ibu dan keluarga bayi tersebut. Apakah menangis karena kehilangan buah hati yang dicintainya? Atau menangis karena menyesali sang bayi yang tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal selama di rumah sakit? Tapi yang jelas tampak raut muka kekecewaan pada keluarga bayi malang tersebut.
Sambil membawa pulang jenazah bayi tersebut, salah seorang dari keluarga tersebut mengatakan “kami pulang dulu ya” kepada dokter IGD yang telah bersedia melihat kondisi bayi tersebut walau dokter umum tersebut tidak dapat berbuat banyak. Dan dokter itu hanya dapat menganggukkan kepalanya tanpa dapat berkata-kata.
@ sebuah kamar mess rumah sakit, 13 April 2013.
Kamis, 29 Maret 2012
Masa Akhir Studiku
Hari ini genap 11 semester aku kuliah di kedokteran. Sampai hari ini aku masih dengan gelar S.Ked-ku. Sedangkan beberapa orang kawan seangkatan dan sahabatku telah bergelar dokter bahkan sudah menikah. Bukan karena aku bodoh atau tidak bisa menyelesaikan studiku secepatnya, tapi karena rasa malas yang menghampiriku untuk menyelesaikan skripsi. Ya, memang di akhir studi ini kami juga diwajibkan untuk menyelesaikan skripsi seperti sarjana-sarjana dari program studi yang lain.
Sampai hari ini aku telah mengerjakan skripsiku sampai pengumpulan data. Selanjutnya tinggal pengolahan data, pembahasan dan konsul ke pembimbing untuk acc sidang skripsi. Aku sadar bahwa tidak ada gunanya menunda-nunda skripsi ini, tapi aku juga tidak punya motivasi yang kuat untuk membuatku semangat dalam mengerjakan skripsi ini. Setiap kali saat aku ingin melanjutkan isi skripsi itu, aku merasa blank dan gak tau mau mengerjakan apa.
Mohon maafku kepada kedua orang tuaku kalau anakmu ini sampai hari ini belum dapat menyelesaikan studinya. Doakan saja yang terbaik untukku.
Sabtu, 27 November 2010
Jalanku Menjadi Seorang Dokter.
Jumat, 05 November 2010
Mengharapkan Pertolongan Allah?
Kamis, 04 November 2010
Tulisan Pertamaku
Sebenarnya saya bukanlah seorang yang suka menulis, tetapi karena ingin mencoba sesuatu yang baru (dalam hal ini membuat blog dan menulis di dalamnya), maka saya membuat blog ini. Saya tidak terlalu berharap bila kelak blog ini dapat berguna bagi orang lain (bila dapat berguna maka Alhamdulillah), tetapi minimal blog ini dapat menjadi tempat saya menuliskan apa yang ada dibenak saya.
Salam kenal dan terima kasih buat semua yang mau mengunjungi dan membaca blog saya. Semoga kita semua terus berada dalam lindungan Allah SWT.