Sabtu, 27 November 2010

Jalanku Menjadi Seorang Dokter.

“Menjadi Seorang Dokter?”. Tidak pernah ada di benakku sebelumnya bahwa kelak aku akan menjadi seorang dokter. Dari kecil aku selalu bercita-cita menjadi seorang guru atau ahli matematika karena aku suka bidang hitung-menghitung. Tapi kemudian jalan hidup berkata lain, aku sekarang kuliah di fakultas kedokteran dan sekarang sedang menjalani kepaniteraan klinik senior atau koas. Semua ini merupakan kehendak kedua orang tuaku yang menginginkan aku untuk menjadi seorang dokter.

Langkah aku untuk menjadi seorang dokter dimulai pada kelas III SMA. Ketika itu ada undangan seleksi masuk universitas (USMU) dan orang tuaku menyuruh aku untuk mengambil jurusan pendidikan dokter pada undangan tersebut. Aku sebagai seorang anak harus menuruti kemauan orang tuaku. Dan aku pun hanya memilih jurusan itu sebagai pilihan pertama dan tidak memasukkan pilihan kedua dalam undanganku karena mereka menyuruh aku untuk hanya memilih jurusan pendidikan dokter saja. Dari sekolah kami yang memilih jurusan pendidikan dokter pada undangan itu ada dua orang. Yang pertama adalah seorang temanku yang perempuan dan memang dia sangat pandai di kelas serta dia selalu menjadi juara kelas sejak kelas I. Yang kedua adalah aku yang biasa-biasa saja di kelas. Begitulah harapan kedua orang tuaku agar aku bisa lulus di kedokteran melalui jalur khusus tersebut.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Akhirnya tibalah pengumuman hasil seleksi USMU tersebut. Dengan penuh harap kedua orang tuaku berdo’a agar anaknya ini dapat lulus di kedokteran melalui jalur USMU tersebut. Tapi Allah SWT berkehendak lain. Yang lulus hanya temanku saja, bukan aku. Orang tuaku pun merasa kecewa dengan pengumuman tersebut. Keesokan harinya mereka langsung membawa aku mendaftar di salah satu lembaga bimbingan belajar di Banda Aceh. Di sana aku mengikuti program bimbingan belajar intensif untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Program tersebut aku ikuti selama kurang lebih 3 bulan.

Pendaftaran SPMB pun dibuka, aku mendaftarkan diriku dan membeli formulir IPA. Aku pun kembali memilih fakultas kedokteran sebagai salah satu jurusan pilihanku. Dan satu bulan kemudian aku pun mengikuti tes tersebut. Aku pun berdoa semoga kali ini aku akan bisa mewujudkan harapan kedua orang tuaku bahwa kelak aku dapat kuliah di kedokteran.

Selama menunggu hasil pengumuman tersebut, aku pun mengikuti tes di perguruan tinggi yang lain dan memilih jurusan bahasa inggris. Aku mengikuti tes tersebut karena merasa diri kurang mampu untuk bisa lulus di fakultas kedokteran yang menjadi jurusan yang paling favorit dan memiliki passing grade tertinggi. Di perguruan tinggi tersebut pengumumannya hanya berselang tiga hari dari hari testing masuk, dan Alhamdulillah aku lulus di jurusan bahasa inggris itu. Aku pun mengikuti program matrikulasi selama 3 minggu hingga hari pengumuman SPMB tiba.

Pengumuman SPMB melalui internet lebih awal dari pada pengumuman di koran. Jadi aku pun lebih memilih untuk melihat pengumumannya di internet karena tidak sabar ingin melihat hasilnya. Aku membuka situs resminya pada pukul 20.00 WIB, akan tetapi ternyata pengumumannya diundur dan baru dapat dibuka pada pukul 00.00 WIB. Aku pun menunggu hingga pukul 00.00 WIB, kemudian aku kembali membuka situs pengumuman tersebut. Kemudian aku memasukkan nomor tesku dan Alhamdulillah aku dinyatakan lulus di fakultas kedokteran. Saat itu aku diliputi rasa senang yang luar biasa dan juga rasa syukur kepada Allah SWT. Setelah pengumuman SPMB tersebut aku memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi kuliahku di jurusan bahasa inggris dan memilih untuk kuliah di kedokteran saja.

Kemudian aku mendaftar ulang untuk dapat masuk ke fakultas kedokteran dan mengikuti ospek di kampus. Pada saat aku masuk, ternyata mulai diterapkannya sistem PBL (problem based learning) di fakultas kedokteran, khususnya di jurusan pendidikan dokter. Sistem ini membuat masa studi jadi lebih pendek yaitu 3,5 tahun untuk kuliah di kampus dan 1,5 tahun untuk kepaniteraan di rumah sakit. Sistem ini lebih mengedepankan belajar mandiri dari mahasiswa untuk menggali ilmu sendiri berdasarkan masalah yang dihadapinya, dengan lebih banyak diskusi untuk memecahkan masalah dan sedikit kuliah di setiap minggunya. Untuk diriku yang tidak begitu pandai atau rajin menghafal dan juga tidak begitu rajin untuk menggali informasi sendiri, sistem ini hanya membuat aku jadi memiliki sedikit ilmu. Bukan sistemnya yang salah, tapi akunya yang malas belajar.

Satu demi satu semester aku lalui dengan tidak banyak ilmu yang aku dapati. Aku menyadari bahwa ini tidak baik untukku. “Mau jadi dokter apa kamu nanti?” itu bisik hati kecilku. Setiap pergantian semester aku selalu bertekat untuk belajar lebih rajin agar dapat lebih baik lagi dari semester sebelumnya. Tapi tetap saja tidak berubah, aku tetap dengan diriku yang tidak maksimal dalam belajar dan menghafal. Setelah 7 semester aku lalui, aku pun melihat KRSku. Alhamdulillah aku mendapatkan nilai yang bagus. Aku pun bersyukur dan juga sedikit keheranan, mengapa nilaiku bisa bagus padahal aku merasa tidak maksimal dalam belajar selama ini. Mungkin ini merupakan karunia Allah atau mungkin Allah mengabulkan do’a kedua orang tuaku. Sampai sekarang aku tidak tau mengapa.

Aku pun mengikuti wisuda sarjana kedokteran. Di sana aku beserta kawan-kawanku yang lainnya disumpah dan juga diserahkan ijasah S.Ked. Saat itu ada rasa bangga karena sudah berhasil hingga saat ini, tetapi ada juga rasa cemas karena mengkhawatirkan masa kepaniteraan klinik senior yang katanya berat.

Setelah mengikuti kepaniteraan klinik junior selama 1 bulan, kini aku menjalani kepaniteraan klinik senior di rumah sakit. KKS ini sudah ku jalani selama ± 7 bulan. Aku berada satu kelompok dengan orang-orang yang pintar, rajin, dan ambisius untuk berhasil. Mereka juga taat dalam beribadah. Aku iri pada mereka, mereka bisa menjawab banyak pertanyaan dari teman-teman koas dan juga pertanyaan dari dokter, baik dokter umum maupun dokter konsulen. Aku iri pada mereka karena saat ini aku tidak bisa menjadi seperti mereka. Tapi sayangnya aku hanya sebatas iri dengan apa yang mereka capai, tanpa berusaha sekeras usaha mereka.

Saat ini aku merasa malu pada diriku sendiri karena tidak bisa jadi seseorang yang lebih baik. Aku malu pada orang tuaku yang telah menghabiskan banyak biaya untuk kuliahku di kedokteran tetapi aku tidak belajar maksimal. Aku juga malu pada kawan-kawanku karena aku bukan seseorang yang pandai seperti yang mereka kira dan tidak bisa memjawab pertanyaan yang mereka tanyakan.

Apakah aku harus mundur di jalanku ini karena aku merasa tidak mampu atau karena ini hanya kemauan orang tuaku saja? Rasanya tidak mungkin lagi karena aku sudah berada sejauh ini. Lagipula betapa bodohnya aku jika aku menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan padaku untuk menjadi seorang dokter yang banyak orang menginginkannya. Mungkin inilah jalanku untuk meraih sukses dengan membuat mereka yang sakit menjadi dapat tersenyum kembali. Sekarang tugasku hanya berusaha memperbaiki diri agar kelak bisa menjadi dokter yang berguna untuk masyarakat dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aku juga ingin membuat kedua orang tuaku tersenyum bangga karena telah memiliki anak sepertiku.

Jumat, 05 November 2010

Mengharapkan Pertolongan Allah?

“Ingin mendapatkan pertolongan Allah? Tanyakan pada diri sendiri: Sejauh mana kita yakin saat berdo’a? Sejauh mana kita khusyu’ dan ikhlas saat beribadah? Sejauh mana kita bertawakal kepada Allah? Sejauh mana kita mensyukuri pertolongan Allah yang sudah-sudah? Sejauh mana kita berusaha menjemput pertolongan Allah?”

Itulah beberapa kalimat yang saya ambil dari halaman Rahmat Mr. Power. Kalimat itu membuat saya kembali bermunasabah atau mengintrospeksi diri terhadap apa saja yang telah saya lakukan. Bukan bermaksud untuk menyesalinya karena tidak ada gunanya menyesali yang telah terjadi, tetapi untuk mengambil pelajaran dan berusaha lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Bukankah di saat kita kesusahan, kita selalu ingat kepada Allah dan meminta pertolongan padaNya? Tetapi di saat kita senang, sedikit sekali di antara kita yang mengingat Allah dan bersyukur atas nikmat yang diberikan olehNya. Apakah Allah perlu membuat kita terus-menerus dalam kesusahan agar kita terus ingat kepadaNya? Tentu kita tidak akan sanggup.

Allah tidak pernah pilih kasih kepada makhluk ciptaanNya. Allah tetap memberikan rahmat dan anugerahNya kepada semua manusia, baik yang taat kepadaNya, maupun yang tidak. Harta yang Allah titipkan pada kita saat ini hanya sementara saja dan setiap saat Allah dapat mengambilnya kembali tanpa kita sadari. Seharusnya harta tersebut membuat kita jadi lebih bersyukur dan taat kepadaNya, tetapi yang ada sekarang ini adalah harta tersebut membuat kita lalai dalam melaksanakan kewajiban kita kepadaNya

Rasanya tidaklah pantas bila kita meminta pertolongan kepada Allah sedangkan kita tidak dengan sungguh-sungguh melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Tetapi kita sebagai seorang manusia yang lemah juga tidak mungkin dapat menghadapi cobaan dari Allah tanpa mengharapkan bantuan dariNya. Coba bayangkan bila kita meminta pertolongan kepada seseorang yang kita tidak mau melakukan apa yang dia suruh atau yang dia minta bantu. Apakah dia akan mau menolong kita? Rasanya dia tidak akan pernah mau membantu kita. 

Semoga kita semua dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah, mensyukuri segala nikmat-nikmatNya, dan terus berada dalam perlindunganNya hingga ajal menjelang. Amiin.

Kamis, 04 November 2010

Tulisan Pertamaku

Assalamu'alaikum wr. wb.

Sebenarnya saya bukanlah seorang yang suka menulis, tetapi karena ingin mencoba sesuatu yang baru (dalam hal ini membuat blog dan menulis di dalamnya), maka saya membuat blog ini. Saya tidak terlalu berharap bila kelak blog ini dapat berguna bagi orang lain (bila dapat berguna maka Alhamdulillah), tetapi minimal blog ini dapat menjadi tempat saya menuliskan apa yang ada dibenak saya.

Salam kenal dan terima kasih buat semua yang mau mengunjungi dan membaca blog saya. Semoga kita semua terus berada dalam lindungan Allah SWT.