“Menjadi Seorang Dokter?”. Tidak pernah ada di benakku sebelumnya bahwa kelak aku akan menjadi seorang dokter. Dari kecil aku selalu bercita-cita menjadi seorang guru atau ahli matematika karena aku suka bidang hitung-menghitung. Tapi kemudian jalan hidup berkata lain, aku sekarang kuliah di fakultas kedokteran dan sekarang sedang menjalani kepaniteraan klinik senior atau koas. Semua ini merupakan kehendak kedua orang tuaku yang menginginkan aku untuk menjadi seorang dokter.
Langkah aku untuk menjadi seorang dokter dimulai pada kelas III SMA. Ketika itu ada undangan seleksi masuk universitas (USMU) dan orang tuaku menyuruh aku untuk mengambil jurusan pendidikan dokter pada undangan tersebut. Aku sebagai seorang anak harus menuruti kemauan orang tuaku. Dan aku pun hanya memilih jurusan itu sebagai pilihan pertama dan tidak memasukkan pilihan kedua dalam undanganku karena mereka menyuruh aku untuk hanya memilih jurusan pendidikan dokter saja. Dari sekolah kami yang memilih jurusan pendidikan dokter pada undangan itu ada dua orang. Yang pertama adalah seorang temanku yang perempuan dan memang dia sangat pandai di kelas serta dia selalu menjadi juara kelas sejak kelas I. Yang kedua adalah aku yang biasa-biasa saja di kelas. Begitulah harapan kedua orang tuaku agar aku bisa lulus di kedokteran melalui jalur khusus tersebut.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Akhirnya tibalah pengumuman hasil seleksi USMU tersebut. Dengan penuh harap kedua orang tuaku berdo’a agar anaknya ini dapat lulus di kedokteran melalui jalur USMU tersebut. Tapi Allah SWT berkehendak lain. Yang lulus hanya temanku saja, bukan aku. Orang tuaku pun merasa kecewa dengan pengumuman tersebut. Keesokan harinya mereka langsung membawa aku mendaftar di salah satu lembaga bimbingan belajar di Banda Aceh. Di sana aku mengikuti program bimbingan belajar intensif untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Program tersebut aku ikuti selama kurang lebih 3 bulan.
Pendaftaran SPMB pun dibuka, aku mendaftarkan diriku dan membeli formulir IPA. Aku pun kembali memilih fakultas kedokteran sebagai salah satu jurusan pilihanku. Dan satu bulan kemudian aku pun mengikuti tes tersebut. Aku pun berdoa semoga kali ini aku akan bisa mewujudkan harapan kedua orang tuaku bahwa kelak aku dapat kuliah di kedokteran.
Selama menunggu hasil pengumuman tersebut, aku pun mengikuti tes di perguruan tinggi yang lain dan memilih jurusan bahasa inggris. Aku mengikuti tes tersebut karena merasa diri kurang mampu untuk bisa lulus di fakultas kedokteran yang menjadi jurusan yang paling favorit dan memiliki passing grade tertinggi. Di perguruan tinggi tersebut pengumumannya hanya berselang tiga hari dari hari testing masuk, dan Alhamdulillah aku lulus di jurusan bahasa inggris itu. Aku pun mengikuti program matrikulasi selama 3 minggu hingga hari pengumuman SPMB tiba.
Pengumuman SPMB melalui internet lebih awal dari pada pengumuman di koran. Jadi aku pun lebih memilih untuk melihat pengumumannya di internet karena tidak sabar ingin melihat hasilnya. Aku membuka situs resminya pada pukul 20.00 WIB, akan tetapi ternyata pengumumannya diundur dan baru dapat dibuka pada pukul 00.00 WIB. Aku pun menunggu hingga pukul 00.00 WIB, kemudian aku kembali membuka situs pengumuman tersebut. Kemudian aku memasukkan nomor tesku dan Alhamdulillah aku dinyatakan lulus di fakultas kedokteran. Saat itu aku diliputi rasa senang yang luar biasa dan juga rasa syukur kepada Allah SWT. Setelah pengumuman SPMB tersebut aku memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi kuliahku di jurusan bahasa inggris dan memilih untuk kuliah di kedokteran saja.
Kemudian aku mendaftar ulang untuk dapat masuk ke fakultas kedokteran dan mengikuti ospek di kampus. Pada saat aku masuk, ternyata mulai diterapkannya sistem PBL (problem based learning) di fakultas kedokteran, khususnya di jurusan pendidikan dokter. Sistem ini membuat masa studi jadi lebih pendek yaitu 3,5 tahun untuk kuliah di kampus dan 1,5 tahun untuk kepaniteraan di rumah sakit. Sistem ini lebih mengedepankan belajar mandiri dari mahasiswa untuk menggali ilmu sendiri berdasarkan masalah yang dihadapinya, dengan lebih banyak diskusi untuk memecahkan masalah dan sedikit kuliah di setiap minggunya. Untuk diriku yang tidak begitu pandai atau rajin menghafal dan juga tidak begitu rajin untuk menggali informasi sendiri, sistem ini hanya membuat aku jadi memiliki sedikit ilmu. Bukan sistemnya yang salah, tapi akunya yang malas belajar.
Satu demi satu semester aku lalui dengan tidak banyak ilmu yang aku dapati. Aku menyadari bahwa ini tidak baik untukku. “Mau jadi dokter apa kamu nanti?” itu bisik hati kecilku. Setiap pergantian semester aku selalu bertekat untuk belajar lebih rajin agar dapat lebih baik lagi dari semester sebelumnya. Tapi tetap saja tidak berubah, aku tetap dengan diriku yang tidak maksimal dalam belajar dan menghafal. Setelah 7 semester aku lalui, aku pun melihat KRSku. Alhamdulillah aku mendapatkan nilai yang bagus. Aku pun bersyukur dan juga sedikit keheranan, mengapa nilaiku bisa bagus padahal aku merasa tidak maksimal dalam belajar selama ini. Mungkin ini merupakan karunia Allah atau mungkin Allah mengabulkan do’a kedua orang tuaku. Sampai sekarang aku tidak tau mengapa.
Aku pun mengikuti wisuda sarjana kedokteran. Di sana aku beserta kawan-kawanku yang lainnya disumpah dan juga diserahkan ijasah S.Ked. Saat itu ada rasa bangga karena sudah berhasil hingga saat ini, tetapi ada juga rasa cemas karena mengkhawatirkan masa kepaniteraan klinik senior yang katanya berat.
Setelah mengikuti kepaniteraan klinik junior selama 1 bulan, kini aku menjalani kepaniteraan klinik senior di rumah sakit. KKS ini sudah ku jalani selama ± 7 bulan. Aku berada satu kelompok dengan orang-orang yang pintar, rajin, dan ambisius untuk berhasil. Mereka juga taat dalam beribadah. Aku iri pada mereka, mereka bisa menjawab banyak pertanyaan dari teman-teman koas dan juga pertanyaan dari dokter, baik dokter umum maupun dokter konsulen. Aku iri pada mereka karena saat ini aku tidak bisa menjadi seperti mereka. Tapi sayangnya aku hanya sebatas iri dengan apa yang mereka capai, tanpa berusaha sekeras usaha mereka.
Saat ini aku merasa malu pada diriku sendiri karena tidak bisa jadi seseorang yang lebih baik. Aku malu pada orang tuaku yang telah menghabiskan banyak biaya untuk kuliahku di kedokteran tetapi aku tidak belajar maksimal. Aku juga malu pada kawan-kawanku karena aku bukan seseorang yang pandai seperti yang mereka kira dan tidak bisa memjawab pertanyaan yang mereka tanyakan.
Apakah aku harus mundur di jalanku ini karena aku merasa tidak mampu atau karena ini hanya kemauan orang tuaku saja? Rasanya tidak mungkin lagi karena aku sudah berada sejauh ini. Lagipula betapa bodohnya aku jika aku menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan padaku untuk menjadi seorang dokter yang banyak orang menginginkannya. Mungkin inilah jalanku untuk meraih sukses dengan membuat mereka yang sakit menjadi dapat tersenyum kembali. Sekarang tugasku hanya berusaha memperbaiki diri agar kelak bisa menjadi dokter yang berguna untuk masyarakat dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aku juga ingin membuat kedua orang tuaku tersenyum bangga karena telah memiliki anak sepertiku.